LAGU SEBAGAI MEDIUM PERLAWANAN: BAGAIMANA ‘NXDE’ DARI ‘(G)-IDLE’ MENGANGKAT ISU PELECEHAN
Komoditas
seksual merupakan isu yang sudah sering menjadi perbincangan di Indonesia
maupun luar Indonesia, salah satunya Korea Selatan. Tidak hanya orang dewasa
atau remaja, anak-anak di bawah umur juga banyak yang dijadikan objek dalam
suatu media. Di kutip dari duniaesai.com, dalam media, perempuan adalah objek
yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan, hasrat dan daya pikir
laki-laki. Perempuan adalah objek yang pasif, yang bisa dibentuk sebagaimana
keinginan laki-laki. Dengan banyaknya platform yang ada, banyak sekali pengguna
yang menggunakan tubuh perempuan di media sebagai pancingan audiens, entah
dengan konsen maupun tanpa konsen dari korban. Di era digital ini, telah banyak
media baru dalam pelecehan seksual, terutama melalui media sosial. Kejahatan
dalam dunia maya seperti cybersex, dan cyber child pornography.
Sekarang, pelecehan tidak hanya ada di dunia nyata, pelecehan sekarang bisa
dilakukan melalui online juga. Dan secara dominan, korbannya adalah
perempuan. Para korban mendapatkan perlakuan yang tidak mereka inginkan,
seperti dibanjiri oleh komentar eksplisit dan eksploitasi melalui saluran
media.
Dari hal tersebut banyak perempuan yang merasa bahwa mereka adalah makhluk yang remeh temeh untuk memuaskan keinginan laki-laki, dan hal ini disuarakan oleh girlgroup asal Korea Selatan bernama (G)-IDLE di comeback mereka pada 17 Oktober 2022 lalu, lagu tersebut berjudul ”NXDE”. “NXDE” adalah lagu dari (G)-IDLE yang mengangkat tentang stereotip perempuan sebagai simbol seks, dan mereka menggunakan Marilyn Monroe sebagai referensi video musiknya. Dalam video musiknya, mereka berpakaian sebagai showgirl dan berbagai kostum yang terinspirasi dari Marilyn Monroe sendiri. Monroe adalah salah satu simbol seks yang terkenal dalam masanya, dan Monroe sering sekali mendapatkan komentar-komentar eksplisit yang menunjukkan pelecehan kepada dirinya. (G)-IDLE menunjukan pembelaan untuk semua wanita di luar sana yang dianggap sebagai simbol seks oleh orang-orang. Transformasi dari kostum showgirl ke diri mereka yang sebenarnya untuk menyenggol pikiran misogynistik masyarakat terhadap perempuan dan seksualisasi berlebihan pada tubuh perempuan. Bahkan judul dari lagu tersebut adalah salah satu cara mereka menunjukan pembelaan dari stereotip tersebut. “Nude” biasa di bilang sebagai kata yang eksplisit dan memiliki konotasi provokatif. Namun, “Nude” yang digunakan dalam lagu ini adalah untuk menunjukan siapa mereka sebenarnya tanpa peduli apakah orang menyukai mereka atau tidak. Ada dimana scene salah satu member di banjiri oleh ujaran kebencian dari netizen dengan lirik, “I’m born nude, you’ve got a dirty mind.” Dan scene nya menunjukan kalau mereka benar-benar tidak peduli dengan apa pandangan orang lain terhadap mereka dan ingin menjadi diri sendiri tanpa harus mengikuti kemauan laki-laki yang ingin mengseksualisasikan mereka, berikut adalah tautan YouTube untuk musik video "NXDE" oleh (G)-IDLE: (G)I-DLE - 'Nxde' Official Music Video
Di kutip dari wawancara Soyeon bersama Diggle
pada Oktober 2022 lalu, ia menjelaskan dengan tegas bahwa lagu yang dia produseri
itu ditujukan untuk mengurangi hasil pencarian konten-konten pornografi ilegal.
Orang yang mengetik “nude” akan mendapatkan konten dan informasi
mengenai lagu mereka ini. Lebih lanjut lagi. Soyeon mengaku secara spesifik
ingin memberantas konten pornografi perempuan dan anak-anak melalu lagu ini. Dengan
cara mereka membela perempuan seperti ini, banyak penggemar bahkan ke
orang-orang yang tidak menggemari mereka di Korea Selatan yang berterimakasih
ke (G)-IDLE karena telah melindungi sesama perempuan. Selain itu dari kalangan
fans K-Pop sendiri, lirik dari lagu “NXDE” ini dijadikan trend perlawanan untuk
para anti-fans yang menyeksualisasikan idola mereka. Selain mendapatkan
komentar-komentar positif, (G)-IDLE juga di serang oleh komentar-komentar
negatif di kolom komentar musik video mereka. Salah satunya seperti, “Banyak
lelaki yang tidak menyukai konsep kali ini, seharusnya mereka berhenti
melakukan musik”. Tetapi (G)-IDLE tidak berhenti sampai situ, mereka masih
meneruskan karir mereka dan mengangkat konsep yang membela perempuan di konsep comeback
mereka, seperti “Allergy” dan “Queencard” membahas tentang kepercayaan diri
seorang perempuan, “Wife” mengangkat tentang patriarki dan “Super Lady” yang mengangkat
tentang kekuatan perempuan.
Terkait
untuk mengatasi pelecehan seksual ini, ini menjadi tugas bersama dan memerlukan
kesadaran dari semua pihak tentang dampak dari pelecehan dan pentingnya
menghormati orang lain. Baik dari pendidikan, peraturan yang lebih ketat lagi
dan dukungan terhadap korban. Ada banyak langkah untuk membantu mengurangi
insiden pelecehan seksual di media ini. Juga sistem pelaporan pelecehan seksual
harus dimudahkan, serta harus dijaga juga privasi si pelapor.
Kesimpulannya,
dengan maraknya berita pelecehan secara online maupun langsung, (G)-IDLE
menunjukan kalau cara orang membela dan berdiri untuk diri sendiri itu berbeda-beda, dan (G)-IDLE adalah salah satu dari mereka yang menyuarakan keluhan
dan pembelaan melalui karya mereka sendiri. Hal ini menjadi inspirasi orang-orang
di luar sana yang pernah melalui masa-masa sulit itu, tetapi dengan dukungan
lingkungan sekitar juga dapat membantu banyak karena para korban harus tetap
dirangkul. Dan, perempuan bukan lah objek untuk memuaskan laki-laki. Woman is
not an object, my body is not an object.


Komentar
Posting Komentar